sebut saja aku...
hari terang, dan aku harus terus mendaki, ketika tenggorokan terasa begitu keringnya, lapar pun kian meraja disela lambung kambuhan. tiada perbekalan sama sekali, dan aku harus terus mendaki.
bersyukurlah jika hari itu kutemui kekasih hati, dia membawa sebuah mangkuk berukuran besar, sepertinya cukup mengenyangkan tanpa membuat siksa si empunya. akan tetapi aku masih harus melewati sebuah batu besar untuk mencapainya, sementara nyawa sudah di ujung kepala, aku tak kuat lagi menumpu diri.
kekasihku tersenyum dari atas batu, ia tidak berpindah posisi sedikit pun. ya.. aku harus berhasil menggapainya, begitulah tekadku sore itu.
ahh..tapi aku sudah benar-benar tidak mampu lagi, rasanya aku mau mati setelah seharian mendaki dan tidak seteguk air pun yang kuminum.
kekasihku masih tersenyum, sementara mataku mengiba mengharapnya datang menghampiri, mengingat hanya satu buah batu besar yang harus ia turuni untuk segera menyelamatkanku.
aku jatuh tersungkur menahan segala rasa di tubuh, di sisi kiri kulihat seorang pria bertubuh kecil, wajahnya datar. berbeda denganku, jika aku mengharap kekasihku segera datang menjemputku, pria ini ingin sekali aku menghampirinya, berdua kami menikmati makanan dalam mangkuk kecil yang di bawanya.
tidak lama aku berpikir, segera kulangkahkan kaki ke arahnya, walau ragu terus membayang, "apakah mangkuk sekecil itu cukup untuk kami berdua?!", sebelum aku tiba di hadapannya, tiba-tiba kekasihku yang berdiri di atas batu tadi meneriakiku dengan sinis, "makanan itu tidak akan cukup untuk kalian berdua, jika kau paksakan kau hanya akan membuatnya mati kelaparan, kemarilah, kau harus berusaha menggapaiku, lihat!, mangkukku lebih besar dan ini lebih dari cukup untuk kita nikmati bersama", kata-katanya membuyarkan keteguhanku, mataku terpaku silih berganti. iya, benar sekali yang disampaikannya, kasihan pria kecil itu jika harus kupaksakan memakan makananannya. langkahku mulai bergeser, kuputuskan untuk mendaki batu itu, hanya saja mataku masih memandangi pria kecil tadi, dia tidak bicara sepatah kata pun, wajahnya lembut menerpa kebimbanganku.
setelah aku berhasil menaiki batu itu, senyumku merekah penuh kebahagiaan, sirnalah duka, sirnalah lapar dahaga, sirnalah keletihan...
kekasihku terbahak-bahak menyaksikanku yang tergopoh-gopoh tanpa daya, kemudian ia membalikkan mangkuk besar di tangannya, "hahahahaha..una una..lihat mangkuk ini! kosong..tidak ada sedikit makanan pun yang bisa kau makan. dan cacing-cacing besar berjatuhan dari dalam mangkuk, Oh Tuhaaan... aku lemas seketika.
satu-satunya harapan adalah pria kecil tadi, aku harus kembali menghampirinya, kusaksikan ia masih menungguku di mulut gua, membawa mangkuk kecil berisi makanan yang sesungguhnya, senja meredup, kekasihku pergi untuk selamanya, dan masing-masing dari kami pun hilang di kegelapan.
-------
besar dan kecil sebuah nikmat yang kita peroleh, bukanlah ukuran kepuasan yang akan kita dapat. rasa syukurlah yang menjadikan Tuhan berkehendak menentukan 'kenyang' tidaknya seorang manusia meski hanya sesuap nasi yang dimakan hari itu, lalu bagaimana dengan si fulan pemutus harapan? berikut hadisnya:
Nabi bersabda: “Barangsiapa yang memutuskan harapan orang yang mengharapkan bantuannya maka Allah akan putuskan harapannya di hari kiamat nanti dan ia tak akan masuk surga.”
jika saja dulu itu sempurna, jika saja tidak pernah kau beri aku sebuah harapan.
ini merupakan cerita pertama di tiga puluh malam-malamku, sekaligus sebuah jawaban atas penolakan "kekasihku", sebuah awal dari bulatnya tekad memilih pria kecil dalam hidupku.
