Friday, April 22, 2011

puisi (sudut pandang jelmaan)


Aku berbahagia, mulai dari kedekatan pikirku hingga sejauhnya dengus nalar menyambar, bukan karena waktu memberi sekat-sekat pemisah antara yang benar dan yang relatif. Namun, ada baiknya aku berpikir ini tidak benar atau sama sekali salah, dan sama sekali nihil, sungguh pun aku tak tahu apa tepatnya.

Aku berbahagia, dari mula belum jumpa keragaman manusia, sampai pada titik hitam yang kemudian tercipta dan diciptakan di sumber maharaja yang bernama "kejenuhan".

Lalu kusaksikan mataku terbenam, jauh dari kedalaman akal sehat, sama halnya dengan kegilaan bukan?
(bisa benar, bisa juga salah).

Hidup bukan sekedar menaruh letih punggung dan air mata, cobalah memaknai keindahan dari selimut kebisingan, menelannya bulat-bulat dan mentah-mentah tanpa harus dicerna dulu, karena yang demikian itu dapat membuat hidup lebih hidup.

Telanjangkan diri, nikmati segala rasa; dingin menggigil atau panas membakar, mulailah dengan menelan ludah, dan ucapkan; laa hawla walaa quwwata illa billah.
(resapi teman, tidak ada yang hak di muka bumi ini tanpa penilaian Yang Maha Benar).

Jika saja sebelum terang hanya ada terang, sudah barang tentu kegelapan belum dibuat; lalu dimana letak selubung bagi jiwa-jiwa yang redup?!
(sebentaar...  maknai lagi itu, bisa jadi ini keterkaitan antara pahala dan dosa, surga neraka, baik buruk, hitam putih, yin yang,  yang lain-lain silahkan anda kembangkan sendiri).

Kurendahkan diri, kurendahkan hati, kunaikkan posisi, kutinggikan derajat, semua tidak lebih dari sudut pandang jelmaan, dapat berubah setiap kali mengedipkan mata.

(jangan terlalu serius, ini dua rius)

selamat apa saja!
samsyahra